Kumpulan Makalah Keperawatan

Jumat, 11 Februari 2011

FRAKTUR

A. Definisi Fraktur
Fraktur adalah kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa dan biasanya disertai cidera jaringan.
Fraktur dapat dibagi menjadi :
1. Fraktur tertutup ( closed ), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2. Fraktur terbuka ( open/compound ), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan.
Bedasarkan garis fraktur dibedakan menjadi :
1. Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang atau melalui kedua korteks tulang.
2. Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.
Bedasarkan jumlah garis fraktur, dibedakan menjadi :
1. Simple fraktur, bila hanya ada satu garis patah.
2. Communitive fraktur, bila fraktur lebih dari satu dan tidak saling berhubungan, misalnya fraktur 1/3 distal dan 1/3 proksimal.

B. Etiologi
Etiologi patah tulang menurut Barbara C. Long adalah
1. Fraktur akibat peristiwa trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada.
Fraktur dapat disebabkan oleh trauma, antara lain :
a. Trauma langsung
Bila fraktur terjadi ditempat dimana bagian tersebut terdapat ruda paksa, misalnya : benturan atau pukulan pada tulang yang mengakibatkan fraktur.
b. Trauma tidak langsung
Misalnya pasien jatuh dengan lengan dalam keadaan ekstensi, dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan, suprakondiskuler, klavikula.

c. Trauma ringan
Dapat menyebabkan fraktur bila tulang itu sendiri sudah rapuh.Selain itu fraktur juga disebabkan olehkarena metastase dari tumor, infeksi, osteoporosis, atau karena tarikan spontan otot yang kuat.
2. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya.
3. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.





C. patofisiologi
Barbara C. Long menguraikan bahwa ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) cidera pembuluh darah ini merupakan keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila ditekan atau digerakkan dapat timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkan syok neurogenik.
Sedangkan kerusakan pada system persarafan, akan menimbulkan kehilangan sensasi yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah yang cidera.
Kerusakan pada kulit dan jaringan lainnya dapat timbul oleh karena trauma atau mecuatnya fragmen tulang yang patah. Apabila kulit robek an luka memiliki hubungan dengan tulang yang patah maka dapat mengakibatkan kontaminasi sehingga resiko infeksi akan sangat besar.


D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dari fraktur antara lain nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertanbah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme tulang yang menyertai fraktur untuk meminimalkan gerakan antara fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa), bukan tetap rigid seperti normalnya.Pergeseran frakmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlahat maupun teraba). Ekstremitas yang bisa diketaui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur. Frakmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 – 5 cm (1 – 2).
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derki tulang yang dinamakan krepitasi/krepitus yang teraba akibat gesekan antara frakmen satu dengan yang lain.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cidera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linier atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain)














E. Phatway
Langsung Trauma tidak langsung


Terbuka Fraktur Tertutup

Luka Perubahan fisik

Gangguan body image
Hematoma
Fiksasi Resti infeksi Perdarahan Depresi syaraf Resiko tinggi

Interna Eksterna Nyeri Integritas jaringan

Plat/pen Traksi Hospitalisasi

Kurang merawat diri Bedrest Kurang pengetauan
Cemas
penekanan satu sisi

Gangguan mobilitas fisik
F. Klasifikasi Fraktur
1. Fraktur radius ulna
Pada ulna dan radius sangat penting gerakan-gerakan pronasi dan supinasi. Untuk mengatur gerakan ini diperlukan otot-otot supinator, pronator teres dan pronatur quadratus. Yang bergerak supinasi-pronasi (rotasi) adalah radius.
a) Gejala-Gejala
Patah radius ulna mudah dilihat, adanya deformitas di daerah yang patah, bengkak, angulasi, rotasi, (pronasi atau supinasi), perpendekan.
b) Radiologi
AP/LAT ditentukan garis patahnya serta dislokasinya.
c) Pengobatan
Dilakukan reposisi tertutup, prinsipnya dengan melakukan traksi earah distal dan mengembalikan posisi tangan yang sudah berudah akibat rotasi. Untuk menempatkan tangan dalam arah yang benar harus dilihat letak garis patahnya. Kaluau letak patahnya 1/3 proksimal, posisi fragment proksimal selalu dalam posisi supinasi karena kerja otot-otot supinator . Maka untuk mendapatkan kegarisan yang baik fragment distal diletakkan dalam posisi supinasi. Setelah ditentukan kedudukannya baru dilakukan imobilisasi dengan gips sirkular diatas siku. Gips dipertahankan 6 minggu. Kalau hasil resposisi tertutup baik, dilakukan tindakan operasi (open reposisi) dengan pemasangan internal fiksasi dengan plate-screw (AO).
d) Komplikasi
Dapat terjadi delay ed union, non union, mal union.




2. Faktur radius kepala
Biasanya terjadi pada penderita muda
a) Manifestasi
Biasanya jatuh dalam posisi siku dalam keadaan ekstensi penuh dan ada gaya abduksi yang kuat (valgus).Akibatnya terjadi benturan yang kuat antara permukaan concane kapitulum humeri dengan bagian concave dari kepala radius. Kedua kartilage tersebut biasanya patah, tetapi kerusakan selalu pada kepala radius. Patah kepala radius bisa terjadi bebera fragment.
b) Gejala
Dapat diraba adanya pembengkakan siku karena haemarthrosis, rasa sakit yang progresif, gerakan pronasi dan supinasi terbatas karena sakit, nyeri tekan di daerah kepala radius.
c) Radiologi
AP/LAT pada patah kepala radius comminutive cukup jelas terlihat, Pada patah jenis undiplaced AP/LAT kadang-kadang susah terlihat, perlu ditambah posisi supinasi dan pronasi.
d) Penanggulangan
Fraktur kepala radius tanpa dislokasi dimana bentuk tulang rawan sendi masih baik, cukup ditolong dengan imobilasi.Dalam hal imobilisasi cukup dengan mempertahankan siku yang sakit, memakai sling (digendong) dengan mitella (kain segitiga). Imobilisasi dipertahankan cukup dengan 2 minggu. Selama dalam gendongan, tangan masih diperbolehkan melakukan gerakan pronasi dan supinasi.
e) Komplikasi
Terjadi artheitis post traumatika.


3. Fraktur sendi siku
a) Manifestasi
Luka luas yang berkeping-keping, patah tulang yang membentuk sendi siku yakni humerus, ulna dan radius disertai dengan dislokasi sendi siku.
b) Radiolagi
AT/LAT sendi siku.
c) Penanggulangan
Kalau frakturnya tertutup dapat dicoba dulu dengan melakukan reposisi tertutup, kemudian dilakukan imobilisasi dengan gips sirkuler. Tapi umumnya hasil reposisi tertutup kurang baik, perlu dilakukan reposisi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan plate-screw. Kalau lukanya terbuka dilakukan debridement dengan dilakukan fiksasi luar.
d) Komplikasi
 Kekatan sendi
 Osteomielitis
 Kerusakan n.radialis, medianus dan ulnaris.
 Non union.
 Mal union.
4. Fraktur supra kondilerhumeri
Bentuk tulang pada humerus 1/3 distal, terutama pada suprakondiler humerus berlainan anatominya. Di daerah ini terdapat titik lemah, dimana tulang humerus menjadi pipih disebabnkan adanya fossa olecranon di bagian posterior dab fossa coronoid di bagian anterior.
a) Manifestasi trauma
Ada 2 mekanisme terjadinya mekanisme patah tulang yang menyebabkan 2 macam tipe patah suprakondiler yang terjadi :
 Tipe ekstensi. Trauma terjadi jika siku dalam posisi hiperekstensi, lengao bawah dalam posisi supinasi. Hal ini akan menyebabkan patah pada suprakondikuler.
 Tipe fleksi. Trauma terjadi ketika posisi siku dalam fleksi (40), sedang lengan bawah dalam posisi pronasi.
b) Gejala klinis
Pada tipe ekstensi posisi siku dalan keadaan ekstensi. Daerah siku tampak pembengkakan kadang pembengkakan hebat sekali, kalau pembengkakan tak hebat dapat teraba ujung fragment humerus bagian proksimal, ditambah nyeri gerak, nyeri tekan. Pemeriksaan penunjang dengan radiolagi proyeksi AP/LAT, jelas dapat dilihat tipe ekstensi atau fleksi.
c) Penaggulangan
Kalau pembengkakan tak hebat dapat dilakukan reposisi dalam narkose umum. Penderita tidur terlentang, siku dalam posisi ekstensi penolong menukuk bagian distal, sedang assisten menahan bagian proksimal. Dalm posisi fleksi maksimal ini dilakukan immobilisasi dengan gips spal.
5. Fraktur humerus
a) Gejala
Ditemukan functio lasea lengan atas yang cidera, untuk menggunakan siku harus dibantu oleh tangan yang sehat. Dengan sendirinya tanda-anda patah tulang yang jelas ditemukan. Pada pemeriksaan neurologis harus di periksa n. radialis sering mengalami cidera dapat berupa neuro prasia, axonotmesis atau neurotmesis.
b) Pemeriksaan radiologi
Sebulum pembuatan foto, lengan penderita dilakukan pemasangan bidai terlebih dahulu. Proyeksi foto AT/ALT.
c) Penanggulangan
Fraktur humerus ini sangat baik daya penyembuhan tulangnya. dilakukan pemasangan berupa U. slap.imobilisasi dilakukan selama 6 minggu.
6. Fraktur klavikula
a) Gejala
Sakit disekitar daerah klavikula. Pundak yang cidera tampak lebih rendah dibanding yang normal.
b) Pemeriksaan penunjang
Dengan X-ray, foto proyeksi AP.
c) Penanggulangan
Umumnya dengan tindakan konservatif aklan memberikan hasil yang baik. Immobilisasi dipakai pembalut bentuk angka 8 (8 figure bandage).
d) Komplikasi
Dapat berupa terjadi robeknya a. subclavicula, ruptur pleksus brachialis, non union, delayed union. Kalau terjadi komplikasi tersebut diatas diperlukan open reduksi dan internal fiksasi.
7. Fraktur skapula
a) Gejala
Rasa sakit di daerah skapula, tampak bengkak, kulit acchymosis. Pada palpasi dapat diraba adanya kalpitasi.
b) Pemeriksaan penunjang
Dengan X-ray, proyeksi AP thorak.
c) Penanggulangan
Umumnya dengan tindakan konservatif aka sembuh dengan baik. Lengan diimobillisasi dengan memakai sling selama 2-3 minggu..

8. Fraktur batang femur
a) Manifestasi trauma
Daerah tulang-tulang ini sering mengalami patah. Biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan dikota-kota besar atau jatuh dari ketinggian. Kebanyakan dialami oleh penderita laki-laki dawasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan pandarahan yang banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock.
b) Radiologi
Cukup dengan 2 proyeksi AP dan LAT. Dalam pembuatan foto harus mencakup 2 sendi panggul dan lutut.
c) Penanggulangan
Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan skin traksi dengan metode Buck extension. atau dilakukan dengan pemakaian Thomas spint, tungkai di traksi dalam keadaan ekstensi. Tujuan skin traksi untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan yang lebih lanjut jaringan lunak sekitar daerah yang patah. Setelah dilakukan traksi kulit dapat dipilih pengobatan nono operatif atau operatif.
9. Fraktur patella
a) Manifestasi
Dapat disebabkan karena trauma langsung atau tidak langsung. Trauma tak langsung disebabkan karena adanya tarikan yang sangat kuat dari otot yang membentuk muskulotendineus melekat pada patella. Hal ini sering disertai pada penderita yang jatuh dimana tungkai bawah menyentuh tanah terlebih dahulu dan otot quadricep kontraksi secara keras, untuk mempertahankan kesetabilan lutut.
b) Gejala
Pada lutut ditemukan pembengkakan disebabkan haemathrosis. Pada pemeriksaan ditemukan patella menggambang. Penderita tidak dapat melakukan ekstensi lutut. Hal ini biasanya terjadi pada trauma dimana patahnya transversal dan quadricep expansion tidak ikut robek.
c) Radiologi
Dilakukan proyeksi sky-line view untuk memeriksa adanya fraktur patella incomplite.
d) Penanggulangan
Non operatif
 Untuk fraktur patella yang undisplaced.
 Bila terjadi haemorthrosis dilakukan fungsi terlebih dahulu.
 Kemudian dilakukan immobilisasi dengan pemasangan gips dari pangkal paha sampai pergelangan kaki. Posisi lutut dalam fleksi.
10. Fraktur proksimal tibia
a) Manifestasi trauma
Biasanya terjadi trauma langsung dari samping lutut, dimana kakinya masih terfiksir ditanah. Gaya dari samping ini menyebabka lutut terdorong sangat kuat kearah valgus.
b) Gejala
Lutut yang cidera membengkak dan disertai rasa sakit. kadang-kadang ditemukan deformitas.Gerak lutut terbatas karena rasa sakit.
c) Radiologi
Cukup dengan membuat 2 proyeksi anteroposterior dan lateral. Dari gambar radiologi dapat ditentukan tipa patahnya.
d) Penanggulangan
Terdiri dari operatif dan non operatif.
e) Komplikasi
 Kekakuan sendi lutut.
 Laesi dari n.poplitea.
 Arthritispost traumatika.
11. Fraktur tibia dan fibula
a) Manifestasi
 Trauma langsung : Akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian lebih dari 4 cm. Fraktur yang terjadi biasanya fraktur terbuka.
 Trauma tidak langsung : Diakibatkan oleh gaya gerak diri sendiri.
b) Gejala
Daerah yang patah tampak bengkak, tampak deformitas angulasiditemukan nyeri gerak nyeri tekan ppada daerah yang patah.
c) Radiologi
Umumnya dibuat 2 proyeksi anterior posterior dan lateal.
d) Penanggulangan
Fraktur tertutup dilakukan reposisi tertutup dan dilakukan immobillisasi dengan gips.
e) Komplikasi
 Compartment syndrome.
 Komplikasi ini biasanya terjadi pada fraktur proksimal tibia tertutup.
12. Fraktur pergelangan kaki
a) Manifestasi
Apabila terjadi gaya abduksi maka akan terjadi doronga yang mendorong malleolus lateral. Hal ini akan menyebabkan fraktur dari malleolus lateral setinggi permukaan diatasnya. Gaya adduksi akan mendorong tulang telius pada malleolus mediallis dapat menyebabkan fraktur malleolus medialis diatas permukaan sendi.
b) Gejala
Pada fraktur pergelangan kaki penderita akan mengeluh sakit sekali dan tak dapat berjalan. Didaerah pergelangan kaki sangat bengkak. Bila terjadi fraktur kedua malleolus akan jelas ternyata deformitas.
c) Penanggulangan
Dapat dicoba dengan reposisi tertutupBila berhahasil baik dipertahankan dengan immobilisasi gips dibawah lutut selama 8 minggu.
13. Fraktur talus
a) Manifestasi
Bisa disebabkan trauma yang tak langsung, hal ini terjadi pada penderita sewaktu mengendarai mobil dan mengalami kecelakaan dengan mendadak dan sekuat tenaga mendadak menginjak rem. Pasisi kaki secara mendadak dalam posisi heperdoksofleksi, hal ini menyebabkan fraktur leher talus.
b) Pemeriksaan fisik
Mengalami kecelakaan berat atau jatuh dari ketinggian. Terasa sakit sekali pada daerah pergelangan kaki dan kaki. Daerah pergelangan kaki dan kaki membengkak.
c) Radiologi
Proteksi anterioposterior dan obliqus untuk melihat daerah korpus talus. Proyeksi lateral untuk melihat daerah leher dan kepala talus.
d) Penanggulangan
Dilakukan imobilisasi dengan gips sirkuler dibawah lutut. Gips dipertahankan 3 bulan sampai terjadi union.
e) Komplikasi
 Inteksi, Malunion
 Avaskuler nekrosis
 Dalayed union
 Arthitis post traumatica
14. Fraktur metatarsal
a) Manifestasi
Trauma langsung, karena kejatuhan barang yang cukup berat, atau karena trauma tak langsung, hal ini terjadi sewaktu kaki menginjak tanah dengan kuat secara tiba-tiba badan melakukan gerakan memutar.
b) Pemeriksaan fisik
Penderita mengeluh sakit didaerah pedis. Tampak pembengkakan dan ekhymosis. Pada palpasi didapatkan nyeri tekan krepitasi dan nyri sumbu.
c) Radiologi
Proyeksi anteroposterior, proyeksi oblique, proyeksi lateral.
d) Penanggulangan
Bila fragme fraktur tak mengalami dislokasi dilakukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkuler, dipertahankan sampai 4-6 minggu.
15. Fraktur jari-jari tangan
Ada 3 macam fraktur yang khas :
a) Basseball finger
 Manifestasi : Pasien tidak dapat melakukan gerakan ekstensi ekstensi penuh pada ujung distal falang. Ujunh distal falanh selalu dalam posisi fleksi pada sendi interfalang distal dan terdapat hematoma pada dorsum sendi tersebut.
 Penatalaksanaan : Dilakukan imobilisasi demgan gips atau metal spinting dengan posisi ujung jari hiperekstensi pada sendi intrafalang distal sedangan sendi interfalang proksimal dalam posisi sedikit fleksi.
b) Boxer fracture
 Penatalaksanan : Reposisi tertutup dengan cara membuat sendi metakarpofalangeal dan interfalang proksimal dalam keadaan fleksi 90°, kaput metakarpal V didorong kearah dorsal, lalu imobilisasi dengan gips selama 3 minggu.
c) Fraktur bennet
 Manifestasi : Tampak pembengkakan didaerah karpometakarpal (CMC) I, nyeri tekan dan sakit ketika digerakkan.
 Penatalaksanaan :Dilakukan reposisi tertutup dengan cara melakukan ekstensi dan abduksi dari jari ibu tangan, lalu diimobilisasi.
16. Fraktur antebrakial distal
Ada 4 macam fraktur yang khas :
a) Fraktur colles
 Manifestasi : Fraktur metafisis distal radius dengan jarak 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius.
 Penatalaksanaan : Diperlukan imobilisasi pemasangan gips sirkuler dibawah siku selama 4 minggu.
b) Fraktur smits
 Manifestasi klinis : Penonjolan dorsal fragmen prosimal, fragmen distal disisi volar pergelangan, dan deviasi tangan ke radial.
 Penatalaksanaan : Dilakukan dengan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringn, deviasi ulnar, dn supinasi maksimal. Lalu di immobilisasi dengan gips di atas siku selama 4-6 minggu.
c) Fraktur galaazzi
 Manifestasi : Tampaf tangan dibagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Dalam pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujumg distal ulna.
 Penatalaksanaan : Dilakukan reposisi dengan imobilisasi dengan gips diatas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi.
d) Fraktur montegea
 Manifestasi klinis : Terdapat 2 tipe tipe ekstensi dan tipe fleksi. pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna kearah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi gaya mendorong dari depan kearah fleksi kearah fleksi yang menyebabakan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.
 Penatalaksanaan : Dilakukan reposisi tertutup.
17. Fratur kruris
a) Manifestasi
Gejala yang tampak adanya deformitas angulasi. Daerah yang patah tampak bengkak, juga ditenukan nyeri gerak dan nyeri tekan.
b) Penatalaksanaan
Pada fraktur tertutup dilakukan reposisi tertutup dan imobilisasi dengan gips.
18. Fraktur kompresi tulang belakang
a) Manifestasi
Pada daerah fraktur biasanya didapatkan rasa sakit bila digerakkan dan adanya spasme otot paravertebrata. Bila kepala ditekan kebawah terasa nyeri. Perlu diperiksa keadaan neurologis serta kemampuan miksi an defikasi.
b) Penatalaksanaan
 Istirahat ditempat tidur, terlentang dengan dasar keras dan posisi miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegas dekubitus selama 2 minggu.
 Bila sakit diberikan analgetik.
 Pada fraktur yang stabil dilanjutkan imobilisasi, belajar duduk, jalan, memakai brace.
G. Penatalaksanaan
1. Reposisi, mengembalikan allgment dapat dicapai dengan manipulasi tertutup atau operasi terbuka.
2. Immobilisasi, mempertahankan posisi dengan
a. Fiksasi eksterna (gips dan traksi)
b. Fiksasi interna (orif), dengan lempeng logam (plate) dan nail yang melintang pada cavum medularis tulang.
3. Rehabilitasi mengembalikan fungsi normal bagian yang cidera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar